Mengenal 5 Makanan Khas Banten yang Kaya Rasa dan Tradisi! Dwi Amaliah, July 20, 2026July 20, 2026 Provinsi Banten merupakan salah satu daerah di Pulau Jawa yang menyimpan kekayaan budaya dan kuliner yang menarik untuk dijelajahi. Selain dikenal sebagai wilayah yang pernah menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan Kesultanan Banten pada abad ke-16, provinsi ini juga memiliki beragam makanan khas yang masih bertahan hingga sekarang. Keberagaman budaya masyarakat Banten, mulai dari Sunda Banten, Betawi, hingga pengaruh Timur Tengah dan Tiongkok, turut membentuk cita rasa kulinernya yang khas. Sebagian besar makanan khas Banten memanfaatkan hasil laut, rempah-rempah, santan, serta bahan pangan lokal yang mudah ditemukan. Tidak heran jika setiap hidangan memiliki karakter rasa yang kuat sekaligus menyimpan cerita sejarah di balik proses pembuatannya. Berikut lima makanan khas Banten yang wajib Anda kenal dan cicipi. 1. Sate Bandeng Sate Bandeng merupakan kuliner khas Banten yang paling terkenal dan telah menjadi ikon Kota Serang. Hidangan ini menggunakan ikan bandeng sebagai bahan utama, berbeda dengan sate pada umumnya yang menggunakan daging ayam, sapi, atau kambing. Keunikan Sate Bandeng terletak pada teknik pembuatannya yang cukup rumit. Daging ikan dipisahkan terlebih dahulu dari kulit dan durinya, kemudian dihaluskan dan dicampur dengan santan, kelapa parut, bawang merah, bawang putih, ketumbar, gula, garam, serta berbagai rempah pilihan. Setelah itu, adonan dimasukkan kembali ke dalam kulit ikan bandeng sebelum dipanggang hingga matang. Teksturnya lembut, gurih, dan kaya aroma rempah. Karena durinya telah dihilangkan, hidangan ini lebih nyaman dinikmati oleh semua kalangan. Dahulu, Sate Bandeng dipercaya menjadi salah satu hidangan yang disajikan untuk tamu-tamu penting Kesultanan Banten. Kini, makanan ini banyak dijadikan oleh-oleh khas karena memiliki daya simpan yang cukup baik apabila dikemas dengan benar. 2. Rabeg Rabeg adalah masakan tradisional yang memiliki hubungan erat dengan sejarah Kesultanan Banten. Menurut berbagai catatan sejarah kuliner, hidangan ini terinspirasi dari masakan Timur Tengah yang dibawa oleh para pedagang dan ulama yang datang ke Banten pada masa lampau. Seiring waktu, masyarakat setempat mengolahnya sesuai dengan selera lokal hingga lahirlah Rabeg yang dikenal sekarang. Rabeg umumnya menggunakan daging kambing beserta bagian jeroannya, meskipun saat ini banyak pula yang menggunakan daging sapi. Kuahnya berwarna cokelat bening dengan aroma rempah yang kuat, seperti jahe, pala, kayu manis, cengkih, lada, bawang merah, dan bawang putih. Berbeda dengan gulai yang memakai santan, Rabeg tidak menggunakan santan sehingga menghasilkan rasa gurih yang lebih ringan namun tetap kaya rempah. Hidangan ini biasanya disajikan bersama nasi putih hangat dan menjadi menu favorit pada acara keluarga maupun hari-hari besar keagamaan. 3. Angeun Lada Angeun Lada merupakan makanan tradisional masyarakat Banten yang memiliki cita rasa gurih dan pedas. Dalam bahasa Sunda Banten, “angeun” berarti sayur atau kuah, sedangkan “lada” merujuk pada cabai sebagai salah satu bumbu utamanya. Masakan ini biasanya menggunakan daging sapi atau jeroan yang dimasak bersama santan dan aneka rempah seperti kunyit, serai, lengkuas, daun salam, bawang merah, bawang putih, serta cabai. Perpaduan bumbu tersebut menghasilkan kuah yang kental dengan aroma yang menggugah selera. Angeun Lada sering disajikan dalam berbagai acara adat, peringatan keagamaan, maupun hajatan masyarakat Banten. Bagi masyarakat setempat, hidangan ini bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan karena biasanya dimasak dalam jumlah besar untuk dinikmati bersama keluarga dan tetangga. 4. Ketan Bintul Ketan Bintul merupakan salah satu kuliner khas Banten yang memiliki nilai sejarah tinggi. Makanan ini dipercaya telah ada sejak masa Kesultanan Banten dan menjadi hidangan favorit Sultan serta masyarakat pada waktu itu. Ketan Bintul dibuat dari beras ketan yang dikukus hingga pulen, kemudian disajikan bersama taburan serundeng kelapa berbumbu atau abon yang gurih. Meskipun bahan-bahannya sederhana, perpaduan rasa gurih dan teksturnya yang lembut membuat makanan ini digemari hingga sekarang. Saat bulan Ramadan, Ketan Bintul menjadi salah satu makanan yang paling banyak dicari sebagai menu berbuka puasa. Tidak sedikit pedagang yang hanya menjualnya pada bulan suci karena tingginya permintaan masyarakat. Kehadirannya menjadi bagian dari tradisi kuliner Ramadan di Banten yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi. 5. Pecak Bandeng Selain Sate Bandeng, Banten juga memiliki olahan ikan bandeng lain yang tidak kalah lezat, yaitu Pecak Bandeng. Hidangan ini menggunakan ikan bandeng yang digoreng atau dibakar, kemudian disiram dengan sambal pecak yang terbuat dari cabai, bawang merah, bawang putih, kencur, terasi, garam, gula, dan perasan jeruk nipis. Perpaduan rasa pedas, gurih, dan segar dari sambal pecak memberikan sensasi yang khas ketika dipadukan dengan lembutnya daging ikan bandeng. Hidangan ini semakin nikmat disantap bersama nasi putih hangat, lalapan segar, dan kerupuk. Pecak Bandeng banyak ditemukan di rumah makan maupun sentra kuliner di Kota Serang dan sekitarnya. Hidangan ini menjadi bukti bahwa ikan bandeng merupakan salah satu hasil perikanan yang memiliki peran penting dalam tradisi kuliner masyarakat Banten. Menjaga Warisan Kuliner Banten Makanan khas Banten bukan hanya menggambarkan kekayaan cita rasa, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakatnya. Setiap hidangan lahir dari perpaduan sejarah, kondisi geografis, dan tradisi yang telah diwariskan selama ratusan tahun. Oleh karena itu, mengenal kuliner khas Banten berarti turut mengenal perjalanan budaya yang membentuk provinsi ini. Jika Anda berkunjung ke Banten, sempatkanlah mencicipi Sate Bandeng, Rabeg, Angeun Lada, Ketan Bintul, dan Pecak Bandeng. Selain memanjakan lidah, menikmati kuliner tradisional juga menjadi salah satu cara untuk menghargai kekayaan budaya Indonesia. Dengan terus mengenalkan makanan-makanan khas daerah melalui perjalanan wisata maupun tulisan, kita turut berkontribusi dalam menjaga warisan kuliner Nusantara agar tetap dikenal oleh generasi mendatang. (Visited 2 times, 1 visits today) Post Views: 11 Kuliner #kuliner