Ranu Manduro: Dari Bekas Tambang Jadi Surga Tersembunyi! Dwi Amaliah, November 3, 2025January 14, 2026 Siapa sangka, bekas tambang bisa berubah jadi surga kecil yang memanjakan mata? Itulah yang terjadi di Ranu Manduro, sebuah kawasan di Desa Manduro Manggung Gajah, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Tempat ini viral beberapa tahun lalu karena pemandangannya yang mirip seperti sabana di luar negeri — hijau, luas, dan dikelilingi perbukitan dengan latar Gunung Penanggungan yang megah. Padahal dulunya kawasan ini buknalah tempat wisata sama sekali. Ia adalah bekas tambang galian C milik PT Wira Bumi yang berhenti beroperasi sekitar tahun 2018. Setelah aktivitas tambang selesai, lubang-lubang bekas galian dibiarkan begitu saja. Namun alam punya caranya sendiri untuk menyembuhkan diri. Curah hujan yang tinggi, mengisi cekungan-cekungan itu, membentuk genangan air yang kemudian dikenal sebagai “Ranu Manduro”. Dalam bahasa Jawa, “ranu” berarti danau — jadi, bisa dibilang ini adalah “danau Manduro”. Dari Tambang ke Tempat Viral Ketenaran Ranu Manduro berawal pada awal tahun 2020. Beberapa foto dan video pengunjung yang menampilkan padang hijau dengan latar gunung menyebar cepat di media sosial. Banyak netizen menjuluki tempat ini “New Zealand-nya Mojokerto” karena pemandangannya yang mirip dengan sabana di luar negeri.Menurut laporan Kompas.com (2 Maret 2020), sejak viral, ratusan orang datang setiap hari untuk sekadar berfoto, piknik, atau menikmati udara segar di tengah alam terbuka. Sayangnya, popularitas itu juga membawa konsekuensi. Karena status lahan ini belum resmi menjadi tempat wisata, pengelolaannya tidak terkoordinasi. Akibatnya, kawasan sempat ditutup sementara oleh pihak berwenang demi keamanan dan konservasi. Menurut Detik.com (2024), beberapa area di Ranu Manduro memang tergolong tanah labil dan memiliki kubangan dalam, sehingga pengunjung diimbau berhati-hati saat menjelajah area tersebut. Keindahan Alam yang Autentik Meski begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa Ranu Manduro memiliki pesona yang sulit ditolak. Saat musim hujan, air menggenang di tengah padang rumput, menciptakan refleksi yang indah. Sementara di musim kemarau, area ini berubah menjadi sabana hijau-kekuningan yang menawan, sangat cocok untuk foto-foto estetik. Dari kejauhan, siluet Gunung Penanggungan tampak gagah memayungi kawasan ini. Banyak pengunjung datang hanya untuk menikmati matahari terbit atau terbenam dari area ini. Pemandangannya benar-benar menenangkan — hanya suara angin, gemericik air, dan hembusan udara segar yang menemani. Menurut situs wisata ITrip.id (2023), lokasi Ranu Manduro berada sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Mojokerto, dan bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam perjalanan. Jalannya memang sedikit menantang, terutama untuk mobil, karena masih berupa tanah dan batu. Namun, bagi pecinta petualangan, perjalanan ini justru jadi bagian dari pengalaman seru menuju surga tersembunyi ini. Tiket Masuk & Fasilitas Hingga kini, Ranu Manduro belum memiliki tarif resmi tiket masuk, karena belum dikelola sebagai destinasi wisata formal. Biasanya pengunjung hanya diminta membayar parkir — sekitar Rp3.000 untuk motor dan Rp5.000 untuk mobil (sumber: Detik.com, Agustus 2024).Beberapa warga sekitar membuka warung sederhana yang menjual kopi, mi instan, dan camilan ringan. Jadi, buat kamu yang mau piknik atau foto-foto, sebaiknya bawa bekal sendiri dan tetap menjaga kebersihan area. Waktu terbaik untuk berkunjung ke Ranu Manduro adalah pagi atau sore hari. Selain cuacanya lebih sejuk, cahaya matahari di waktu itu juga pas banget untuk menghasilkan foto dengan warna alami dan lembut. Kalau datang siang hari, panasnya bisa cukup terik karena area ini terbuka dan minim pepohonan. Antara Alam & Kesadaran Pengunjung Salah satu tantangan terbesar di Ranu Manduro adalah menjaga keseimbangan antara popularitas dan kelestarian. Banyak pengunjung yang datang untuk konten foto, tapi sayangnya meninggalkan sampah dan jejak kendaraan di area rumput.Kompas.com bahkan mencatat bahwa salah satu alasan ditutupnya akses ke Ranu Manduro pada tahun 2020 adalah karena adanya kerusakan ekosistem kecil akibat aktivitas kendaraan dan pengunjung yang tidak terkendali. Kini, kesadaran wisatawan mulai tumbuh. Banyak komunitas lokal dan pecinta alam Mojokerto yang mengajak pengunjung untuk “datang, nikmati, tapi jangan tinggalkan apa pun kecuali jejak”. Harapannya, tempat seindah ini bisa tetap alami tanpa perlu dibangun berlebihan. Surga yang Terselip di Balik Gunung Ranu Manduro adalah contoh nyata bagaimana alam bisa memulihkan dirinya. Dari bekas tambang yang gersang, kini menjadi lanskap menawan yang menenangkan siapa pun yang datang. Ia tidak punya wahana buatan, tidak ada lampu warna-warni atau kafe mewah, tapi justru di situlah keindahannya — sederhana, alami, dan jujur. Kalau kamu mencari tempat untuk “kabur” sejenak dari rutinitas, Ranu Manduro bisa jadi pilihan tepat. Datanglah dengan hati yang siap menikmati alam, bukan sekadar berburu konten. Karena kadang, yang paling indah justru bukan tempatnya, tapi ketenangan yang kita rasakan saat berdiri di tengah padang rumput dengan angin yang berbisik lembut. (Visited 35 times, 1 visits today) Post Views: 143 Wisata #wisataviral